Showing posts with label singapore. Show all posts
Showing posts with label singapore. Show all posts

Monday, October 03, 2016

Repotnya Keluar-Masuk Antarnegara

Tuas Checkpoint, pintu keluar Singapura menuju Malaysia.

Jumat (9/9) menjelang siang, kami sekeluarga sudah bersiap-siap untuk memulai petualangan ke Legoland Malaysia. Weekend dengan tambahan satu hari libur pada hari Senin (12/9) dirasa masih kurang, jadi Icha mengambil libur dan saya mencutikan diri. Sedang Jeremy, ya bolos... :)

Beruntung kita berangkat menjelang jumatan, lalu lintas Ibu Kota masih bersahabat. Bandara dapat dicapai dalam sekitar satu jam. Masih banyak waktu, jadi hal pertama yang dilakukan setiba di bandara yaitu makan siang.

Waktu ke Jepang naik AirAsia tempo hari, kita melakukan web check-in. Jadi, nyelonong aja sampai ke gate nggak masalah. Apalagi, kita tidak punya bagasi yang dilaporkan. Ternyata, waktu pulang dari Osaka, nggak bisa seperti itu. Meski dibawa ke kabin, koper hand carry tetap harus ditimbang. Dan, celakanya waktu itu timbangannya lebih, sehingga kita harus membayar lumayan mahal.

Berhubung belum pernah naik Jetstar, saya tidak tahu kebijakannya seperti apa. Ternyata memang harus lapor dulu di konter check in dan bawaan ditimbang. Batas maksimal 7 kg per orang masih sangat leluasa karena kita cuma bawa 2 koper hand carry plus 1 bagpack.

Saya sempat khawatir monopod alias tongsis tidak boleh masuk kabin. Pasalnya, ini monopod yang bisa dipakai untuk menopang kamera SLR, jadi lebih besar ketimbang tongsis ponsel biasa. Agar tidak terlalu menyolok, monopod ini saya masukkan ke dalam koper. Ternyata lolos-lolos aja tuh.

Masuk ke ruang tunggu gate, oleh petugas ditawarkan agar hand carry dimasukkan ke dalam bagasi. Katanya pesawat penuh, jadi khawatir bagasi di atas tempat duduk nggak muat. Karena gratis (hahaha, dasar ogah rugi), kita pun setuju. Jadi, masuk ke pesawat melenggang tanpa bawaan.

Pengalaman pertama terbang naik Jetstar ini kesannya menyenangkan. Selain gratis bagasi tadi, pesawatnya pun sangat tepat waktu. Mungkin karena maskapai penerbangan asing, anak perusahaan dari Qantas Australia. Pesawatnya kecil—sayang, saya tidak tahu tipe-tipe pesawat—dengan formasi sebaris 3-3. Benar kata petugas di gate, pesawat ini penuh. Mungkin orang-orang pada mau liburan ke Singapura.

Semua berjalan smooth. Tiba di Changi, imigrasi, dan ambil bagasi. Lancar jaya. Dari bandara, kita naik taksi ke Amaris Bugis. Proses check in di hotel yang masih jaringan Kompas Gramedia ini pun lancar, walau petugasnya rada jutek.

Kesan pertama atas Amaris Bugis, meski mungil, tapi terasa lebih nyaman ketimbang hotel Fragrance yang pernah kita tempati dulu. Mereka tampaknya aware kalau zaman sekarang traveler pasti memiliki banyak gadget. Colokan tersedia banyak, ada empat titik di dua tempat. Lagi pula, lubang colokannya bisa digunakan steker bulat ala colokan Indonesia. Mungkin tamunya banyak dari Indonesia.

Kritik buat Amaris Bugis barangkali menyangkut kebersihan. Kayaknya kamar mandinya sudah lama tidak digosok. Di beberapa sudut tampak mulai menghitam. Pada malam kedua kita menginap di sini, ada kesan sprei dan sarung bantalnya tidak diganti. Terlihat agak lusuh. Tapi semoga tidak ya. Overall sih pengalaman di sini oke-oke saja. Sesuai dengan hargalah.

Malam pertama, kita tidak ke mana-mana. Cuma beli makan malam di Subway, langsung balik istirahat di hotel. Untuk keesokan harinya, sarapan sebenarnya disediakan oleh hotel. Cuma, karena kita harus berangkat pukul 8 dari Singapore Flyer, kita sudah pesan malam sebelumnya agar sarapan disediakan lebih awal. Sarapannya cuma roti, sereal, dan mi instan dalam cup. Tapi, lumayanlah untuk mengisi perut.

Ternyata, berangkat pukul 7 menuju Singapore Flyer itu kepagian. Hanya dibutuhkan waktu kurang dari 10 menit dari hotel. Jadi, kami terpaksa menunggu dulu. Sementara itu, cuaca memburuk. Angin kencang dan hujan deras. Terbayang kembali pengalaman di Disneyland Tokyo, di mana setengah hari habis untuk menunggu hujan reda. Wah, jangan sampai kejadian lagi deh.

Rupanya, bukan itu masalah yang mengganggu pada hari ini. Tak lama beranjak dari Singapore Flyer, hujan reda. Cuaca berangsur cerah dan belakangan malah terik. Tak sampai 1 jam, kita sudah tiba di Tuas Checkpoint, pintu keluar Singapura. Nah, masalahnya itu ada di sini.

Pagi hari di akhir pekan, tampaknya banyak orang Singapura mau main ke Malaysia. Antrean mau masuk ke kompleks Tuas Checkpoint mengular hingga beberapa ratus meter menjelang exit tol. Dibutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk menempuh jarak yang tak seberapa itu.

Begitu turun dari bus, antrean di imigrasi keluar Singapura pun lumayan panjang. Butuh waktu setengah jam lebih hingga lewat konter imigrasi. Beruntung tak perlu membawa koper, jadi tak terlalu merepotkan. Jangan lupa menyiapkan potongan kartu imigrasi waktu sebelumnya masuk Singapura.

Menyeberangi Selat Johor yang memisahkan Singapura dan Malaysia tak sampai 10 menit. Kita langsung turun lagi untuk imigrasi masuk Malaysia. Di sini, semua bawaan harus dibawa turun. Tapi—nggak tahu apakah memang kebiasaannya begitu, atau karena ini satu bus sudah jelas cuma mau ke Legoland—tidak ada kartu imigrasi yang harus diisi. Kita cukup menyerahkan paspor untuk dicap tanda masuk. Setelah itu periksa bawaan. Jauh lebih cepatlah ketimbang keluar Singapura sebelumnya.

Fiuh, waktu menunjukkan pukul 11 lebih waktu tiba di Legoland di kawasan Nusajaya, Johor Baru. Artinya, seluruh proses dan perjalanan dari Singapore Flyer memakan waktu 3 jam lebih. Padahal, menurut banyak blog yang saya baca, paling dibutuhkan waktu antara 1,5 jam hingga 2 jam. Jadi, urusan keluar-masuk antarnegara ini harus jadi hal yang perlu dipertimbangkan saat merencanakan perjalanan.

Opsi langsung masuk Malaysia melalui bandara Senai di Johor Baru boleh dipertimbangkan kalau memang mau ke Legoland. Tapi, kalau tetap ingin ke Singapura, ya bagaimanapun proses ini harus dijalani. Mungkin timingnya dicari yang tepat, karena keesokan harinya waktu kembali ke Singapura, ternyata hanya memakan waktu kurang dari 2 jam. Itu pun karena jalan menuju Singapore Flyer agak padat. Mestinya bisa 1,5 jam saja. [bersambung]

Simak juga video Youtube perjalanan ini di sini.

Thursday, September 29, 2016

Rencana Berlibur di Tengah Isu Virus

Agar perjalanan lancar, rencanakan sejak dini. (Gambar by Pixabay)

Long weekend pertengahan bulan ini, kami sekeluarga berlibur ke Legoland Malaysia. Celakanya, sepekan sebelum berangkat, tiba-tiba marak pemberitaan soal virus zika di Singapura. Bukan apa-apa, kami berencana berangkat melalui Singapura.

Pilihan ke Legoland muncul karena permintaan Jeremy sebagai hadiah sunatan. Sebelumnya, kami sudah pernah ke Universal Studios Singapura dan Disneyland Tokyo. Kata Jeremy, ini untuk terakhir kalinya dia mau liburan ke theme park. Ya, sekarang dia sudah kelas 6 SD. Kalau SMP, katanya, sudah tidak pantas untuk main-main ke theme park. Oalah, anakku (merasa diri) sudah besar. Padahal, bapaknya aja masih mau...

Beberapa waktu lalu, kita melihat video di Youtube tentang keluarga yang berlibur ke hotel Legoland. Kelihatannya sangat menarik. Semuanya serba lego. Mulai dari kamar, lift, restoran, hingga kolam renang. Video itu bercerita tentang hotel Legoland di Amrik. Tapi, perkiraan kita, yang di Malaysia pasti tidak berbeda jauh. Dan, setelah melihat-lihat brosurnya, dugaan kita tidak keliru. Hanya saja, berarti budget yang harus disiapkan lumayan, karena mau menginap di hotel Legoland—bukan hotel budget seperti yang selama ini kita lakukan.
Kita pilih Legoland!
Persoalan pertama yang harus segera diselesaikan adalah tiket pesawat. Ini yang paling menentukan, karena untuk mendapatkan tiket yang terjangkau kantong, harus dipesan jauh-jauh hari dan biasanya hanya tersedia untuk hari-hari yang tidak peak. Berhubung Jeremy disunat pada waktu libur sekolah Juni-Juli, maka kita harus mencari waktu yang cukup setelah itu. Pilihan pun jatuh pada long weekend September ini.

Cari punya cari, akhirnya ketemu Jetstar dengan harga yang sebenarnya tidak murah-murah amat. Tapi, lumayanlah, untuk long weekend ternyata masih bisa dapat di bawah Rp 1 juta. Tiket pun kita pesan sekitar enam bulan sebelum berangkat, done!

Oya, seperti saya singgung di atas, kita berangkat melalui Singapura. Terus terang, saya tidak terpikir opsi untuk terbang langsung ke Johor Baru, karena pengalaman beberapa teman dan sejumlah blogger, semua lewat Singapura. Padahal ini bisa jadi opsi, apalagi setelah kita tahu belakangan, lumayan ribet urusan keluar-masuk antarnegara ini. Tapi, setelah menimbang berbagai hal, pada akhirnya saya berkesimpulan pilihan kami tidak terlalu keliru.

Setelah ada kepastian tanggal berangkat, langkah berikutnya memesan transportasi dan penginapan. Untuk transportasi, berdasarkan sejumlah review, yang dianjurkan adalah naik bus travel WTS Coach dari Singapore Flyer. Bus ini langsung menuju Legoland, jadi tidak perlu ganti-ganti angkutan lagi. Pilihan lain yaitu naik bus umum dari Bugis, tapi harus berganti bus di Malaysia. Atau, bisa juga naik taksi atau mobil carter, tapi ongkosnya lebih mahal. Ya sudah, kita langsung pesan WTS Coach via online untuk perjalanan pulang pergi. Perlu diingat, untuk berangkat hanya tersedia jadwal pagi hari, sedangkan untuk kembali hanya tersedia jadwal sore hari. Jadi, harus disesuaikan dengan itinerary. Done!
Ke Legoland naik WTS Coach.
Terakhir, penginapan. Kita tidak mau terlalu ambisius dengan itinerary. Kali ini, fokusnya ke Legoland. Selebihnya dibikin sesantai mungkin, nggak usah ke sana-kemari seperti waktu di Jepang. Akhirnya kita kecapekan sendiri akibat jadwal yang terlalu padat. So, untuk durasi empat hari, hari pertama cuma diisi berangkat dari Jakarta siang hari, tiba di Singapura langsung check in hotel dan nggak ke mana-mana lagi. Hari kedua baru berangkat ke Legoland, menginap semalam di sana, dan hari ketiga balik lagi ke Singapura. Kita masih punya waktu luang sedikit di malam hari. Baru hari berikutnya kita kembali ke Indonesia.

Jadi, ada dua malam kita menginap di Singapura. Cukuplah hotel budget. Kita cari yang tak terlalu jauh ke Singapore Flyer. Pilihan pun jatuh ke Amaris Bugis di Middle Road. Dari sini, Bugis Junction dan Bugis Street masih within walking distance. Di seberang hotel ada Subway dan di sebelahnya ada 7 Eleven. Jadi, nggak perlu khawatir kelaparan di malam hari. Done!

Untuk hotel Legoland bisa dipesan online. Karena tidak yakin apakah di lokasi nanti bisa cari makan malam, kita memesan sekaligus dengan makan malam. Lantas, karena sudah menginap di situ, untuk tiket masuk theme park ada opsi beli kombo, tiket theme park bisa jadi terusan untuk masuk ke water park dan berlaku selama dua hari. Opsi ini jelas lebih menguntungkan ketimbang harus beli satu-satu, theme park dan water park. Ternyata, kemudian, dengan tiket ini, kita bisa keluar-masuk theme park dan water park sesuka hati. Lagi-lagi pilihan yang tepat. Done!

Kembali ke persoalan di awal, maraknya isu virus zika memang mengkhawatirkan. Apalagi ada berita di Kompas bahwa mereka yang pulang dari Singapura diskrining, takutnya terkena virus. Namun, menurut seorang teman, sebenarnya tak perlu terlalu khawatir, karena penyakit ini lebih berbahaya untuk ibu hamil. Yang penting, dijaga nggak tergigit nyamuk. Okelah, kita pasrah saja, tiket udah dibeli, masak nggak jadi berangkat. Yuk mareee... [bersambung]


Friday, September 12, 2014

First Trip Abroad with My Fam

Menginjakkan kaki di Singapura.
Sudah lama sekali aku tidak menulis. Menulis dalam arti karena benar-benar ingin menulis. Menulis sekarang sudah menjadi pekerjaan bagiku. Aku memang nyaris menulis setiap hari. Tapi, begitu rutin. Begitu automatis. Begitu mekanis. Nyaris tidak ada jiwanya.

Menulis--dalam situasi demikian--bukan lagi kegiatan yang menyenangkan