Showing posts with label family. Show all posts
Showing posts with label family. Show all posts

Thursday, September 29, 2016

Rencana Berlibur di Tengah Isu Virus

Agar perjalanan lancar, rencanakan sejak dini. (Gambar by Pixabay)

Long weekend pertengahan bulan ini, kami sekeluarga berlibur ke Legoland Malaysia. Celakanya, sepekan sebelum berangkat, tiba-tiba marak pemberitaan soal virus zika di Singapura. Bukan apa-apa, kami berencana berangkat melalui Singapura.

Pilihan ke Legoland muncul karena permintaan Jeremy sebagai hadiah sunatan. Sebelumnya, kami sudah pernah ke Universal Studios Singapura dan Disneyland Tokyo. Kata Jeremy, ini untuk terakhir kalinya dia mau liburan ke theme park. Ya, sekarang dia sudah kelas 6 SD. Kalau SMP, katanya, sudah tidak pantas untuk main-main ke theme park. Oalah, anakku (merasa diri) sudah besar. Padahal, bapaknya aja masih mau...

Beberapa waktu lalu, kita melihat video di Youtube tentang keluarga yang berlibur ke hotel Legoland. Kelihatannya sangat menarik. Semuanya serba lego. Mulai dari kamar, lift, restoran, hingga kolam renang. Video itu bercerita tentang hotel Legoland di Amrik. Tapi, perkiraan kita, yang di Malaysia pasti tidak berbeda jauh. Dan, setelah melihat-lihat brosurnya, dugaan kita tidak keliru. Hanya saja, berarti budget yang harus disiapkan lumayan, karena mau menginap di hotel Legoland—bukan hotel budget seperti yang selama ini kita lakukan.
Kita pilih Legoland!
Persoalan pertama yang harus segera diselesaikan adalah tiket pesawat. Ini yang paling menentukan, karena untuk mendapatkan tiket yang terjangkau kantong, harus dipesan jauh-jauh hari dan biasanya hanya tersedia untuk hari-hari yang tidak peak. Berhubung Jeremy disunat pada waktu libur sekolah Juni-Juli, maka kita harus mencari waktu yang cukup setelah itu. Pilihan pun jatuh pada long weekend September ini.

Cari punya cari, akhirnya ketemu Jetstar dengan harga yang sebenarnya tidak murah-murah amat. Tapi, lumayanlah, untuk long weekend ternyata masih bisa dapat di bawah Rp 1 juta. Tiket pun kita pesan sekitar enam bulan sebelum berangkat, done!

Oya, seperti saya singgung di atas, kita berangkat melalui Singapura. Terus terang, saya tidak terpikir opsi untuk terbang langsung ke Johor Baru, karena pengalaman beberapa teman dan sejumlah blogger, semua lewat Singapura. Padahal ini bisa jadi opsi, apalagi setelah kita tahu belakangan, lumayan ribet urusan keluar-masuk antarnegara ini. Tapi, setelah menimbang berbagai hal, pada akhirnya saya berkesimpulan pilihan kami tidak terlalu keliru.

Setelah ada kepastian tanggal berangkat, langkah berikutnya memesan transportasi dan penginapan. Untuk transportasi, berdasarkan sejumlah review, yang dianjurkan adalah naik bus travel WTS Coach dari Singapore Flyer. Bus ini langsung menuju Legoland, jadi tidak perlu ganti-ganti angkutan lagi. Pilihan lain yaitu naik bus umum dari Bugis, tapi harus berganti bus di Malaysia. Atau, bisa juga naik taksi atau mobil carter, tapi ongkosnya lebih mahal. Ya sudah, kita langsung pesan WTS Coach via online untuk perjalanan pulang pergi. Perlu diingat, untuk berangkat hanya tersedia jadwal pagi hari, sedangkan untuk kembali hanya tersedia jadwal sore hari. Jadi, harus disesuaikan dengan itinerary. Done!
Ke Legoland naik WTS Coach.
Terakhir, penginapan. Kita tidak mau terlalu ambisius dengan itinerary. Kali ini, fokusnya ke Legoland. Selebihnya dibikin sesantai mungkin, nggak usah ke sana-kemari seperti waktu di Jepang. Akhirnya kita kecapekan sendiri akibat jadwal yang terlalu padat. So, untuk durasi empat hari, hari pertama cuma diisi berangkat dari Jakarta siang hari, tiba di Singapura langsung check in hotel dan nggak ke mana-mana lagi. Hari kedua baru berangkat ke Legoland, menginap semalam di sana, dan hari ketiga balik lagi ke Singapura. Kita masih punya waktu luang sedikit di malam hari. Baru hari berikutnya kita kembali ke Indonesia.

Jadi, ada dua malam kita menginap di Singapura. Cukuplah hotel budget. Kita cari yang tak terlalu jauh ke Singapore Flyer. Pilihan pun jatuh ke Amaris Bugis di Middle Road. Dari sini, Bugis Junction dan Bugis Street masih within walking distance. Di seberang hotel ada Subway dan di sebelahnya ada 7 Eleven. Jadi, nggak perlu khawatir kelaparan di malam hari. Done!

Untuk hotel Legoland bisa dipesan online. Karena tidak yakin apakah di lokasi nanti bisa cari makan malam, kita memesan sekaligus dengan makan malam. Lantas, karena sudah menginap di situ, untuk tiket masuk theme park ada opsi beli kombo, tiket theme park bisa jadi terusan untuk masuk ke water park dan berlaku selama dua hari. Opsi ini jelas lebih menguntungkan ketimbang harus beli satu-satu, theme park dan water park. Ternyata, kemudian, dengan tiket ini, kita bisa keluar-masuk theme park dan water park sesuka hati. Lagi-lagi pilihan yang tepat. Done!

Kembali ke persoalan di awal, maraknya isu virus zika memang mengkhawatirkan. Apalagi ada berita di Kompas bahwa mereka yang pulang dari Singapura diskrining, takutnya terkena virus. Namun, menurut seorang teman, sebenarnya tak perlu terlalu khawatir, karena penyakit ini lebih berbahaya untuk ibu hamil. Yang penting, dijaga nggak tergigit nyamuk. Okelah, kita pasrah saja, tiket udah dibeli, masak nggak jadi berangkat. Yuk mareee... [bersambung]


Wednesday, September 02, 2015

Berpose ala Glico Man di Dotonbori


Ada sejumlah kebiasaan yang dilakukan di tempat-tempat wisata tertentu. Dan, kalau belum melakukan hal tersebut, kok kayaknya ada yang kurang. Belum afdal, katanya.

Misalnya saja, kalau berkunjung ke air mancur Trevi di Roma, Italia, jangan lupa untuk melemparkan koin ke dalam kolam. Melemparkannya pun harus dengan cara yang spesifik, yaitu dengan berdiri membelakangi kolam, lalu koin harus dilempar menggunakan tangan kanan melalui bahu kiri. Jumlahnya juga spesifik, yaitu tiga koin. Mengapa tiga? Karena, katanya, koin pertama akan membuat kamu datang lagi ke Roma, koin kedua akan memastikan cinta yang baru, dan koin ketiga akan memastikan pernikahan.

Ribet amat yak? Terlepas dari masuk akal atau tidak, cerita ini terus hidup dan setiap hari selalu ada saja orang yang melakukannya. Rasanya belum sah ke air mancur Trevi kalau belum melempar tiga koin ke kolam. Bayangkan saja, diperkirakan setiap hari ada sebanyak 3.000 euro koin yang dilemparkan, atau setara dengan Rp 47 juta. Busyet banget nggak tuh?

Nah, bicara soal kebiasaan ini, kalau kamu berkunjung ke Dotonbori, di kawasan Namba, Osaka, jangan lupa bergaya seperti Glico Man.

Dotonbori merupakan salah satu tujuan wisata populer di Osaka. Di kawasan ini terdapat sebuah kanal dan Dotonbori adalah sebutan untuk kawasan di seputar kanal itu. Kawasan ini terkenal antara lain sebagai tujuan wisata kuliner. Kalau mau cari hidangan favorit lokal, seperti okonomiyaki atau takoyaki, ya di Dotonbori ini tempatnya. Selain itu, salah satu menu favorit adalah kepiting raksasa. Restoran yang menjual kepiting raksasa ini, Kani Doraku, memajang kepiting raksasa berwarna merah. Kepiting ini dapat menggerak-gerakkan tangannya. Begitu mencoloknya kepiting ini, sehingga menjadi salah satu landmark kawasan Dotonbori.

Sementara itu, yang disebut Glico Man sebenarnya gambar seorang pelari di lintasan berwarna biru pada papan reklame yang sangat besar. Ceritanya ia sudah mencapai finis sehingga mengangkat kedua tangannya. Sementara itu, ia masih dalam posisi berlari, sehingga salah satu kakinya terangkat. Terlebih pada malam hari, ketika lampu-lampu neon sudah dinyalakan, si Glico Man ini akan tampak sangat menonjol.

Posenya yang tidak biasa itu membuat banyak orang berusaha meniru dan berfoto dengan latar belakang si Glico Man. Posisi ideal untuk berfoto adalah di atas jembatan yang melintasi kanal. Saat kami mampir di sore hari, Dotonbori belum terlalu ramai. Jadi lumayan bisa leluasa untuk berfoto-foto. Setelah berfoto, sah sudah berkunjung ke Dotonbori.
Sebenarnya siapa sih si Glico Man ini? Nah, ternyata ini adalah reklame untuk permen karamel Glico. Ini adalah salah satu produk pertama dari perusahaan permen Ezaki Glico. Papan reklame ini sendiri sudah dipasang sejak 1935. Jadi, sepanjang usianya yang sebentar lagi sudah seabad, si Glico Man ini tidak berubah. Meski demikian, lampu neonnya beberapa kali diubah sehubungan dengan event-event besar, antara lain Piala Dunia dan untuk mendukung tim bisbol kebanggaan Osaka, Hanshin Tigers.

Tak jauh dari lokasi papan reklame, di Shinsaibashi, dapat dijumpai penjual permen Glico. Permen ini juga menjadi salah satu oleh-oleh khas Osaka, utamanya Dotonbori.

So, kalau lain kali berkunjung ke Osaka, jangan lupa mampir di Dotonbori dan berpose seperti Glico Man.

Friday, August 28, 2015

Gachapon yang Bikin Penasaran

Apa hal yang paling ingin dilakukan Jeremy di Jepang? Ternyata ada dua, melihat patung Hachiko dan ... membeli gachapon.
Nah, buat Anda yang mungkin belum familier, gachapon atau gashapon merupakan mainan figurin atau model karakter film-film animasi Jepang. Bentuknya kecil saja, umumnya seukuran genggaman tangan. Mainan ini dikemas dalam wadah plastik berbentuk kapsul bulat. Terus, apa menariknya

Memilih Akses Internet untuk Traveling ke Jepang

Jalan-jalan ke luar negeri tapi nggak narsis di social media? Ngeri kali. Tapi, nggaklah. Aku nggak senajis itu, hahaha. Cuma memang gara-gara pengen narsis di social media, salah satu hal yang wajib dipersiapkan sebelum keluar negeri sekarang adalah akses internet. Rasanya ada yang kurang jika tidak memiliki akses Internet.

Liburan ke Jepang

Shibuya Crossing.
Ini adalah tulisan pertama dari Seri Jalan-jalan ke Jepang. Sebelumnya, sedikit latar belakang. Berlibur ke Jepang? Banyak orang--bahkan sampai sekarang kalau aku cerita--bilang bahwa Jepang itu mahal. Lain waktu aku akan bahas lebih jauh, mengapa kami memilih ke Jepang. Tapi, untuk konteks tulisan ini cukuplah aku bahas yang praktis-praktis saja.

Singkatnya, berlibur ke Jepang memang tidak murah, tapi masih bisalah dijangkau. Buat keluarga kelas menengah seperti kami, tentu butuh usaha menabung yang banyak dan sedikit keberuntungan. Keberuntungan yang aku maksud adalah mantengin salah satu maskapai yang acap bikin promo heboh. Kebetulan, begitu dengar maskapai ini menggelar kembali program nol rupiah, aku langsung memberi tahu Icha dan begitu pulang kantor pada 2 Juni 2014--yup, sudah setahun lebih--kami langsung hunting tiket.


Sejak lama kami ingin memenuhi undangan seorang teman Icha yang tinggal di Osaka. So, tujuan kami adalah Osaka. Cari-cari-cari, ternyata dapat dapat tiket Jakarta-Osaka PP kurang dari Rp 9 juta untuk bertiga. Cukup murah. Hanya saja, kami agak ragu menentukan tanggal keberangkatan. Yang jelas, kami hanya bisa berangkat saat liburan sekolah. Aku tidak mau mengorbankan sekolah Jeremy. Masa sekolah mestinya berakhir pada akhir Juni 2015 dan libur sampai--nah ini dia--antara sebelum atau sesudah Lebaran 2015.

Kami tidak mau gambling mengambil waktu minggu terakhir Juni, khawatir jangan-jangan masih ujian atau ada kegiatan di sekolah. Jadi kami putuskan untuk berangkat 30 Juni. Berapa lama di Jepang? Ada sejumlah pertimbangan. Selain biaya tentunya, aku harus memperhitungkan cuti dan kegiatan kami selama di Jepang. Pengalaman berlibur di Singapura pada 2013 lalu, memasuki hari ketiga--setelah hari sebelumnya ke Universal Studios--Jeremy sudah bosan dan capek sehingga sering ngambek di jalan. So, kalau kami berniat ke Disneyland Tokyo, mestinya jangan di awal-awal, dan durasi di Jepang juga jangan terlalu lama. Empat hari rasanya ideal, di luar perjalanan, karena kami harus transit di Kualalumpur. Maka, diputuskan berangkat 30 Juni, kembali (tiba di Indonesia) 5 Juli. Deal! Tiket pun dipesan.

Fake Liberty statue and Rainbow Bridge, Odaiba.

Dotonbori.

Sebenarnya, ada hal lain yang agak mengganggu, tapi karena keputusan harus cepat diambil, ya sudah demikian. Belakangan, saat menyusun itinerari dan budget, kami baru sadar bahwa Tokyo-Osaka tidak dekat dan biaya transportasi dalam negeri Jepang pun tidak murah. Untuk bolak-balik Tokyo-Osaka jelas makan waktu dan biaya. Mestinya, akan lebih optimal jika kami masuk di Osaka dan keluar di Tokyo. Tapi, sudahlah, tiket sudah dipesan. Ya harus pintar-pintar menyusun rencana.

Yang jelas, kami harus mengunjungi teman Icha di Osaka. Ya sudah, aku mengalokasikan waktu hari pertama untuk muter-muter Osaka. Detailnya, mesti didiskusikan lagi dengan temannya Icha. Hari kedua, pagi-pagi benar kami harus berangkat ke Tokyo, sekalian menjajal Shinkansen. Diperkirakan butuh waktu sekitar 3 jam, mestinya sebelum makan siang, kami sudah sampai di Tokyo. Ada dua highlight yang menurutku wajib dikunjungi, agar setidaknya "tahu" Tokyo, yaitu Kuil Asakusa dan Jalan Nakamise serta Shibuya dan Harajuku. Ini mestinya bisa dikejar dalam setengah hari kedua. Hari berikutnya, hari ketiga, merupakan "main course" liburan ke Jepang, yaitu seharian di Disneyland Tokyo. Dari situ, kami langsung naik bus malam kembali ke Osaka. Hari keempat, alias terakhir, lagi-lagi perlu didiskusikan dengan temannya Icha. Kira-kira begitulah rancangan kasar itinerari kami. Cukup okelah untuk pemula karena sudah mendapat highlight tempat-tempat wisata utama Jepang.

Itinerari ini baru fixed menjelang keberangkatan, karena selama setahun menunggu--ya, setahun--ada saja usulan atau info tentang tempat lain yang menarik. Misalnya saja, apakah kami hanya fokus di kawasan Kansai saja. Jadi, menjelajah Osaka, Kyoto, dan Nara. Tapi, kayaknya Jeremy pasti bosan, karena yang dilihat pasti lagi-lagi kuil dan sejenisnya. Di Osaka memang ada Universal Studios, tapi karena sudah pernah di Singapura, rasanya sayang. Mending coba yang lain. Sempat pula terpikir untuk melihat Gunung Fuji, atau pernah pula sempat kesengsem melihat liputan Shirakawago di Waku-waku Japan. Tapi, akhirnya kembali ke rencana semula, untuk mengunjungi Osaka dan Tokyo.

Setelah beberapa kali berkomunikasi dengan temannya Icha, termasuk mengunjungi dia saat liburan ke Bandung pada Lebaran 2014, akhirnya kami memutuskan untuk berkunjung ke Istana Osaka dan Dotonbori-Shinsaibashi. Keduanya merupakan highlight utama yang wajib dikunjungi kalau ke Osaka. Selain itu, diputuskan untuk berkunjung ke Kids Plaza, arena bermain anak 5 lantai di Osaka, berhubung temannya Icha juga punya 3 anak yang masih bocah. Jadi, biar bocah-bocah pada senang bermain. Ternyata, masih ada tambahan, kami ditraktir di sebuah restoran sushi di Osaka. Wah, ini sih "bonus" yang tidak direncanakan.

Hachiko.

Kaminarimon.

Asakusa.

So, jadi itinerari komplet yang akhirnya kami jalani adalah sebagai berikut:
Hari I:

  • Pagi, tiba di Osaka
  • Siang ke sore, Dotonbori-Shinsaibashi
  • Sore, Istana Osaka
  • Malam, makan sushi, sayang lupa namanya, tapi mestinya di kawasan utara Osaka.
Hari II:

  • Pagi, Osaka-Tokyo, naik Shinkansen Nozomi
  • Siang, makan siang sambil mandang-mandang Tokyo Tree (mandang-mandang doang, kagak mampir), dilanjut muter-muter Kuil Asakusa dan belanja di Jalan Nakamise.
  • Sore, mampir di Shibuya, menyimak lautan manusia di persimpangan dan foto bareng anjing Hachiko, dilanjut ke Harajuku (Jalan Takeshita)
  • Malam, masuk hotel di Odaiba, lalu menikmati pemandangan Jembatan Rainbow dan foto dengan patung Liberty
Hari III:

  • Pagi sampai malam, di Tokyo Disneyland
  • Malam, naik bus malam kembali ke Osaka
Hari IV:

  • Pagi tiba di Osaka
  • Siang, main ke Kids Plaza
  • Sore, siap-siap ke bandara Kansai
Yup, jadwalnya cukup ketat dan padat. Capek? Sudah pasti, tapi belum puas, karena tidak bisa terlalu banyak menjelajah akibat diburu-buru waktu. Mungkin lain kali bisa lebih santai dan fokus pada satu atau dua tempat saja per hari.

Friday, September 12, 2014

First Trip Abroad with My Fam

Menginjakkan kaki di Singapura.
Sudah lama sekali aku tidak menulis. Menulis dalam arti karena benar-benar ingin menulis. Menulis sekarang sudah menjadi pekerjaan bagiku. Aku memang nyaris menulis setiap hari. Tapi, begitu rutin. Begitu automatis. Begitu mekanis. Nyaris tidak ada jiwanya.

Menulis--dalam situasi demikian--bukan lagi kegiatan yang menyenangkan