Showing posts with label legoland. Show all posts
Showing posts with label legoland. Show all posts

Friday, October 07, 2016

Pesta Anak di Malam Hari

Bocah-bocah bergembira dengan karakter Lego di malam hari.
Cukup beberapa jam berada di kawasan resor Legoland, Nusajaya, Johor Baru, saya langsung sadar bahwa tempat ini terutama dirancang untuk anak-anak. Ini berbeda dengan Universal Studios atau—bahkan—Disneyland. Universal Studios yang mengacu pada film-film beken Hollywood, jelas banyak ditujukan untuk orang besar. Sementara di Disneyland, meski berbasis karakter kartun anak, sangat lumrah melihat pasangan atau gerombolan orang dewasa menikmati berkeliling taman.

Di Legoland, boleh-boleh saja orang dewasa berkunjung, tapi harus siap kembali menjadi anak-anak. Dan, memang, saya nyaris tidak melihat ada pasangan atau kumpulan orang besar lalu lalang. Semua membawa anak kecil.

Semua fasilitas memang tampak ditujukan bagi anak-anak. Tengok saja mulai dari kamar yang ditawarkan, pilihannya bertema Pirate, Kingdom, atau Adventure. Kamar standar terbagi dua yaitu kamar tidur utama dan kamar tidur anak. Kamar tidur utama berisi tempat tidur berukuran king, sedangkan kamar tidur anak berisi tempat tidur tingkat. Kamar standar ini dapat diisi maksimum 5 orang.

Jeremy langsung betah tiduran di tempat tidur tingkat bagian atas. Namun, malamnya ternyata dia tidak berani tidur sendiri dan minta tidur bareng di kamar tidur utama. Alhasil, terpaksa saya yang mengungsi, pindah tempat tidur. Belakangan, saya baru sadar, kalau tidur di tempat tidur tingkat bagian atas akan bersirobok pandang dengan gambar bajak laut bermata satu yang memenuhi dinding. Mungkin ini gara-garanya Jeremy nggak berani tidur sendiri.

Berenang di kolam renang hotel Legoland.
Setelah lelah berpanas-panasan di theme park, lebih enak berendam di kolam renang. Tapi, bukan di water park, karena kita berencana untuk ke sana keesokan harinya. Hotel Legoland ini juga dilengkapi fasilitas kolam renang. Kolamnya ada dua, kolam anak dan kolam orang besar. Meski tidak terlalu besar, kolam yang berada di lantai teratas dengan pemandangan ke arah tempat parkir dan jalan tol ini lumayan menyenangkan.

Sore itu, banyak orangtua yang berpikiran sama dengan kami. Makanya kolam cukup ramai, tapi tak sampai sesak. Berenang kian kemari sambil menyandar ke potongan-potongan lego berukuran besar masih dapat dilakukan dengan nyaman. Seperti biasa, kalau sudah nyemplung, pasti susah menyuruh Jeremy naik. Tapi, menjelang magrib, urusan berenang ini harus disudahi.

Agenda berikutnya adalah makan malam di restoran Brick. Ini tidak termasuk dalam tarif hotel, melainkan harus dipesan terpisah. Ternyata, ini pilihan yang tepat. Bukan hanya karena malas untuk keluar lagi dari hotel, tetapi makan malam di sini menjadi pengalaman tersendiri yang menyenangkan. Sekali lagi, bagi anak-anak.

Tiap meja ditutupi oleh “taplak” berupa kertas bergambar. Satu set pensil warna sudah disediakan sehingga anak-anak kecil dapat makan sembari mewarnai. Untuk menu makanan cukup bervariasi, dari hidangan melayu, hidangan western, hingga sushi. Wajar saja, tamu hotel juga sangat beragam. Mulai dari bule, melayu, hingga timur tengah. Semua selera terpenuhi. Tapi, jangan terlalu berharap dengan rasa. Sushi yang dihidangkan terlalu lembek dan ikannya kurang segar.

Untuk desert cukup beragam, mulai dari buah-buahan, es krim, hingga kue-kue. Di salah satu meja, sejumlah anak berkerumun. Rupanya ada aktivitas menghias kue kering. Jeremy ikutan mencoba. Hasilnya aneh dan kita tidak ada yang berminat untuk mencicipi, hahaha. Yeah, minimal difotolah.

Meski ruangan restoran terbilang cukup luas, ternyata masih banyak tamu hotel yang terpaksa mengantre tempat duduk. Beruntung kita langsung datang begitu jam makan malam. Pengunjung belum terlalu banyak dan kita masih bisa memilih meja. Belakangan, suasana jadi cukup semrawut karena banyak anak kecil. Ada yang tidak bisa diam, ada yang rewel, ada juga yang tekun mewarnai. Saya kurang tahu, apakah sudah diatur sebelumnya atau tidak, sekurangnya ada 3 orang yang berulang tahun. Sejumlah pelayan restoran menghampiri sambil membawa kue berhiaskan lilin dan menyanyikan lagu ulang tahun. Benar-benar meriah.

Makan malam semberi mewarnai "taplak".
Selesai mengisi perut, kita belum mau kembali ke kamar. Jadi, kita melihat-lihat lobby. Masih banyak anak yang memenuhi “kolam” lego. Masing-masing sibuk dengan kreasinya. Di sudut lain, ada yang sibuk bermain Xbox. Ada beberapa unit yang disediakan. Tidak lama, sejumlah anak berkumpul di area depan pintu masuk utama. Rupanya mau ada pertunjukan.

Semula saya mengira pertunjukannya berupa unjuk kebolehan anak-anak yang hadir. Pasalnya, ada beberapa anak bule jumpalitan dan pamer kemampuan balet, mengikuti geberan musik. Rupanya saya keliru. Tidak lama, pertunjukan yang sesungguhnya dimulai, berupa drama dan tari. Kisahnya tentang seorang pangeran, putri, dan seorang cebol. Belakangan, muncul karakter Lego, lalu semua anak yang hadir diajak untuk menari bersama. Malam itu pun berubah menjadi pesta anak yang riuh rendah.

Yang menarik, anak-anak sangat spontan dan apa adanya, tidak peduli asalnya dari mana. Ketika Jeremy yang malas melihat pertunjukan (katanya itu untuk anak perempuan) sibuk berkreasi dengan potongan-potongan lego, seorang anak berwajah timur tengah menyapa. “Apa yang kamu buat,” tanyanya dengan bahasa Inggris yang fasih. “Logo Youtube,” jawab Jeremy. Yup, Jeremy jauh-jauh datang ke Legoland hanya biar bisa bikin logo Youtube yang nantinya akan dipakai untuk channel Youtubenya.

Berawal dari percakapan itu, si anak timur tengah langsung nyerocos. Ia bercerita bahwa ia berasal dari Dubai. Butuh waktu sekitar tujuh jam untuk mencapai Malaysia. Dia berlibur bersama keluarganya dan salah seorang kakaknya punya Youtube channel. Ia juga langsung mengambil Ipad dan menanyakan link ke channel Youtube Jeremy. Jeremy nggak menyia-nyiakan kesempatan, langsung bilang agar teman barunya itu subscribe. Walah, begitu ternyata pergaulan anak bocah zaman sekarang.

Keriuhan malam di hotel Legoland berlangsung sampai sekitar pukul 9 lebih. Setelah pertunjukan berakhir dan selesai foto-foto dengan karakter Lego, satu per satu orang tua membawa anaknya ke kamar. Pesta hari ini selesai, besok kita lanjut lagi. [bersambung]


Wednesday, October 05, 2016

Legoland Malaysia yang Panas


Pose tipikal di depan pintu masuk Legoland Malaysia.

Waktu menunjukkan pukul 12 kurang waktu kami tiba di depan resepsionis hotel Legoland di kawasan Nusajaya, Johor Baru, Malaysia.

Setelah drama mengantre keluar-masuk negara, perjalanan dari pos imigrasi Malaysia ke Nusajaya tak terlalu jauh. Di tengah-tengah kawasan gersang yang lagi dibangun, dari kejauhan nampak logo Legoland. Akhirnya!

Kami turun di tempat perhentian berupa halte kecil di samping tempat parkir. Jadi teringat film-film western ketika si tokoh diturunkan di daerah antah berantah yang gersang dan panas. Begitulah rasanya saat kami menjejakkan kaki turun dari bus. Dari halte, bangunan hotel tampak masih beberapa ratus meter lagi, yang mesti ditempuh berjalan kaki sambil menggeret koper. Alamak, berat nian liburan ini pun.

Kesan panas dan gersang sirna begitu memasuki lobby. Anak-anak kecil berlarian kian kemari. Selain patung-patung besar menyolok yang terbuat dari potongan-potongan lego, terdapat “kolam” yang bukannya berisi air, tetapi ... lebih banyak lagi potongan lego. Pokoknya, lego di mana-mana.

Resepsionis yang menyambut kami adalah perempuan muda berkulit kuning langsat dengan bahasa Inggris tertata rapi. Kami sudah memesan terlebih dahulu secara online sehingga dia hanya menjelaskan berbagai hal seputar fasilitas dan aturan di hotel. Semua cukup jelas dan ternyata ada kejutan menyenangkan dari puan muda ini. Mestinya, check-in baru boleh pukul 4 sore. Boleh saja minta early check-in, tapi tentu ada biayanya. Namun, mungkin karena tahu ini kunjungan kami yang pertama ke Legoland, si puan resepsionis ini mengatakan kami boleh masuk kamar saat itu juga tanpa biaya tambahan.

So far, perjalanan kali ini penuh keberuntungan. Sebelumnya, kami dapat bagasi cuma-cuma, sekarang early check-in cuma-cuma. Setelah stres dan kegerahan, tidak ada yang lebih menyenangkan selain rebahan di kamar yang nyaman dan sejuk.

Seperti video Youtube yang kami tonton, lift menuju lantai kamar berubah menjadi tempat ajojing dengan musik dan lampu gemerlapan. Kita pun serentak bernyanyi, “Dancing in the elevator... Dancing in the elevator...”


Jeremy di kamar bertema pirate.

Memasuki kamar, Jeremy langsung terlonjak-lonjak. Sesuai permintaannya, kami memesan kamar bertema bajak laut (pirate). Semuanya serba bajak laut, mulai dari sprei dan bantal, wallpaper, pernak-pernik, hingga treasure chest alias kotak rahasia. Ya, ada satu lemari kotak yang terkunci. Lemari ini hanya bisa dibuka kalau sandi kuncinya bisa dipecahkan dengan menjawab sejumlah pertanyaan. Isi lemari itu adalah sekotak (kecil) souvenir dan stiker Lego. Sungguh cara yang menyenangkan untuk menyambut anak-anak.

Meski masih mau mengagumi kamar, kami segera turun dan menuju ke theme park. Bukan apa-apa, perut sudah keroncongan. Kami makan di Market Restaurant yang berada di zona Lego City. Makanannya nasi lemak dan ayam goreng. Walau rada aneh di lidah, masakan Melayu ini masih paslah mengisi perut.

Theme park

Theme park Legoland Malaysia ini masih terus dikembangkan. Satu atraksi yang akan diluncurkan akhir tahun 2016 ini yaitu Ninja Go.

Pelataran dengan tulisan Legoland Malaysia yang kerap menjadi spot foto merupakan pintu masuk yang disebut The Beginning. Kalau ke kanan, kita memasuki zona Lego City yang berisi arena permainan anak, di antaranya Driving School, Boating School, Shipyard, dan City Airport. Nggak ada yang bisa kami lakukan di sini, jadi kami lanjut ke Miniland.


Di depan miniatur Singapore Flyer.

Zona ini berisi miniatur gedung-gedung ikonis, antara lain Forbidden City dari Tiongkok, Taj Mahal dari India, Patung Merlion, hotel Fullerton, dan Singapore Flyer dari Singapura. Indonesia diwakili oleh Tanah Lot. Lucunya, ikon Malaysia yaitu Menara Kembar Petronas justru tidak ada. Petugas yang saya tanya pun tidak tahu-menahu. “Dulu ada di situ,” katanya. “Mungkin sedang diperbaiki.” Oalah, ini gimana sih, padahal di bookletnya jelas-jelas tercantum.

Kesan saya, miniatur-miniatur ini kurang terawat. Mungkin karena faktor cuaca juga. Benda plastik yang ditaruh di ruang terbuka serta terpapar hujan dan panas lama-kelamaan pasti jadi kusam dan rusak. Mungkin lebih tahan di negara empat musim yang tidak selembab negara tropis. Overall, zona ini tidak terlalu mengesankan.

Beralih ke zona Imagination, terdapat tempat untuk Build & Test kreasi Lego. Namun, highlight di zona ini barangkali Observation Tower, wahana observasi yang berputar 360 derajat, menampakkan pemandangan theme park dari ketinggian. Namun, selain kegersangan, yang jelas terlihat adalah pembangunan di sejumlah bagian, termasuk wahana Ninja Go. Sementara itu, permainan luar ruang seperti Kids Power Tower terasa kurang nyaman karena udara panas dan matahari terik.

Bagi yang ingin memacu adrenalin, bisa mampir ke zona Lego Kingdom. Terdapat roller coaster The Dragon dan versi mininya, The Dragon’s Apprentice. Berhubung Icha dan Jeremy tidak berani, saya pun malas untuk naik sendirian. Lagi pula, seperti biasa, wahana andalan seperti ini pasti panjang antreannya. Jadi, kita cuma foto-foto di sudut-sudut yang menampilkan suasana kerajaan.


Miniatur Star Wars.

Di zona Land of Adventure, wahana-wahananya menurutku kurang menantang, kecuali Dino Island yang berupa kereta luncur ke air. Sementara itu, wahana-wahana berbau “teknik” dapat ditemukan di zona Logo Technic. Selain wajah Einstein, yang menarik di zona ini barangkali miniatur Star Wars.

Begitulah, tak sampai pukul 4, kami sudah selesai menjelajah seluruh area theme park. Cuaca panas benar-benar membuat kami malas menjelajah. Mestinya kalau lebih banyak pepohonan, barangkali cuaca lebih bersahabat. Kesan umum, kecuali kamu penggemar berat permainan menyusun potongan-potongan Lego, tidak terlalu banyak yang dapat disimak di theme park ini. Wahana-wahananya kurang banyak dan tidak semenantang theme park lain. Bahkan, mungkin masih lebih menantang Dunia Fantasi. Mungkin ya... [bersambung]

Monday, October 03, 2016

Repotnya Keluar-Masuk Antarnegara

Tuas Checkpoint, pintu keluar Singapura menuju Malaysia.

Jumat (9/9) menjelang siang, kami sekeluarga sudah bersiap-siap untuk memulai petualangan ke Legoland Malaysia. Weekend dengan tambahan satu hari libur pada hari Senin (12/9) dirasa masih kurang, jadi Icha mengambil libur dan saya mencutikan diri. Sedang Jeremy, ya bolos... :)

Beruntung kita berangkat menjelang jumatan, lalu lintas Ibu Kota masih bersahabat. Bandara dapat dicapai dalam sekitar satu jam. Masih banyak waktu, jadi hal pertama yang dilakukan setiba di bandara yaitu makan siang.

Waktu ke Jepang naik AirAsia tempo hari, kita melakukan web check-in. Jadi, nyelonong aja sampai ke gate nggak masalah. Apalagi, kita tidak punya bagasi yang dilaporkan. Ternyata, waktu pulang dari Osaka, nggak bisa seperti itu. Meski dibawa ke kabin, koper hand carry tetap harus ditimbang. Dan, celakanya waktu itu timbangannya lebih, sehingga kita harus membayar lumayan mahal.

Berhubung belum pernah naik Jetstar, saya tidak tahu kebijakannya seperti apa. Ternyata memang harus lapor dulu di konter check in dan bawaan ditimbang. Batas maksimal 7 kg per orang masih sangat leluasa karena kita cuma bawa 2 koper hand carry plus 1 bagpack.

Saya sempat khawatir monopod alias tongsis tidak boleh masuk kabin. Pasalnya, ini monopod yang bisa dipakai untuk menopang kamera SLR, jadi lebih besar ketimbang tongsis ponsel biasa. Agar tidak terlalu menyolok, monopod ini saya masukkan ke dalam koper. Ternyata lolos-lolos aja tuh.

Masuk ke ruang tunggu gate, oleh petugas ditawarkan agar hand carry dimasukkan ke dalam bagasi. Katanya pesawat penuh, jadi khawatir bagasi di atas tempat duduk nggak muat. Karena gratis (hahaha, dasar ogah rugi), kita pun setuju. Jadi, masuk ke pesawat melenggang tanpa bawaan.

Pengalaman pertama terbang naik Jetstar ini kesannya menyenangkan. Selain gratis bagasi tadi, pesawatnya pun sangat tepat waktu. Mungkin karena maskapai penerbangan asing, anak perusahaan dari Qantas Australia. Pesawatnya kecil—sayang, saya tidak tahu tipe-tipe pesawat—dengan formasi sebaris 3-3. Benar kata petugas di gate, pesawat ini penuh. Mungkin orang-orang pada mau liburan ke Singapura.

Semua berjalan smooth. Tiba di Changi, imigrasi, dan ambil bagasi. Lancar jaya. Dari bandara, kita naik taksi ke Amaris Bugis. Proses check in di hotel yang masih jaringan Kompas Gramedia ini pun lancar, walau petugasnya rada jutek.

Kesan pertama atas Amaris Bugis, meski mungil, tapi terasa lebih nyaman ketimbang hotel Fragrance yang pernah kita tempati dulu. Mereka tampaknya aware kalau zaman sekarang traveler pasti memiliki banyak gadget. Colokan tersedia banyak, ada empat titik di dua tempat. Lagi pula, lubang colokannya bisa digunakan steker bulat ala colokan Indonesia. Mungkin tamunya banyak dari Indonesia.

Kritik buat Amaris Bugis barangkali menyangkut kebersihan. Kayaknya kamar mandinya sudah lama tidak digosok. Di beberapa sudut tampak mulai menghitam. Pada malam kedua kita menginap di sini, ada kesan sprei dan sarung bantalnya tidak diganti. Terlihat agak lusuh. Tapi semoga tidak ya. Overall sih pengalaman di sini oke-oke saja. Sesuai dengan hargalah.

Malam pertama, kita tidak ke mana-mana. Cuma beli makan malam di Subway, langsung balik istirahat di hotel. Untuk keesokan harinya, sarapan sebenarnya disediakan oleh hotel. Cuma, karena kita harus berangkat pukul 8 dari Singapore Flyer, kita sudah pesan malam sebelumnya agar sarapan disediakan lebih awal. Sarapannya cuma roti, sereal, dan mi instan dalam cup. Tapi, lumayanlah untuk mengisi perut.

Ternyata, berangkat pukul 7 menuju Singapore Flyer itu kepagian. Hanya dibutuhkan waktu kurang dari 10 menit dari hotel. Jadi, kami terpaksa menunggu dulu. Sementara itu, cuaca memburuk. Angin kencang dan hujan deras. Terbayang kembali pengalaman di Disneyland Tokyo, di mana setengah hari habis untuk menunggu hujan reda. Wah, jangan sampai kejadian lagi deh.

Rupanya, bukan itu masalah yang mengganggu pada hari ini. Tak lama beranjak dari Singapore Flyer, hujan reda. Cuaca berangsur cerah dan belakangan malah terik. Tak sampai 1 jam, kita sudah tiba di Tuas Checkpoint, pintu keluar Singapura. Nah, masalahnya itu ada di sini.

Pagi hari di akhir pekan, tampaknya banyak orang Singapura mau main ke Malaysia. Antrean mau masuk ke kompleks Tuas Checkpoint mengular hingga beberapa ratus meter menjelang exit tol. Dibutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk menempuh jarak yang tak seberapa itu.

Begitu turun dari bus, antrean di imigrasi keluar Singapura pun lumayan panjang. Butuh waktu setengah jam lebih hingga lewat konter imigrasi. Beruntung tak perlu membawa koper, jadi tak terlalu merepotkan. Jangan lupa menyiapkan potongan kartu imigrasi waktu sebelumnya masuk Singapura.

Menyeberangi Selat Johor yang memisahkan Singapura dan Malaysia tak sampai 10 menit. Kita langsung turun lagi untuk imigrasi masuk Malaysia. Di sini, semua bawaan harus dibawa turun. Tapi—nggak tahu apakah memang kebiasaannya begitu, atau karena ini satu bus sudah jelas cuma mau ke Legoland—tidak ada kartu imigrasi yang harus diisi. Kita cukup menyerahkan paspor untuk dicap tanda masuk. Setelah itu periksa bawaan. Jauh lebih cepatlah ketimbang keluar Singapura sebelumnya.

Fiuh, waktu menunjukkan pukul 11 lebih waktu tiba di Legoland di kawasan Nusajaya, Johor Baru. Artinya, seluruh proses dan perjalanan dari Singapore Flyer memakan waktu 3 jam lebih. Padahal, menurut banyak blog yang saya baca, paling dibutuhkan waktu antara 1,5 jam hingga 2 jam. Jadi, urusan keluar-masuk antarnegara ini harus jadi hal yang perlu dipertimbangkan saat merencanakan perjalanan.

Opsi langsung masuk Malaysia melalui bandara Senai di Johor Baru boleh dipertimbangkan kalau memang mau ke Legoland. Tapi, kalau tetap ingin ke Singapura, ya bagaimanapun proses ini harus dijalani. Mungkin timingnya dicari yang tepat, karena keesokan harinya waktu kembali ke Singapura, ternyata hanya memakan waktu kurang dari 2 jam. Itu pun karena jalan menuju Singapore Flyer agak padat. Mestinya bisa 1,5 jam saja. [bersambung]

Simak juga video Youtube perjalanan ini di sini.

Thursday, September 29, 2016

Rencana Berlibur di Tengah Isu Virus

Agar perjalanan lancar, rencanakan sejak dini. (Gambar by Pixabay)

Long weekend pertengahan bulan ini, kami sekeluarga berlibur ke Legoland Malaysia. Celakanya, sepekan sebelum berangkat, tiba-tiba marak pemberitaan soal virus zika di Singapura. Bukan apa-apa, kami berencana berangkat melalui Singapura.

Pilihan ke Legoland muncul karena permintaan Jeremy sebagai hadiah sunatan. Sebelumnya, kami sudah pernah ke Universal Studios Singapura dan Disneyland Tokyo. Kata Jeremy, ini untuk terakhir kalinya dia mau liburan ke theme park. Ya, sekarang dia sudah kelas 6 SD. Kalau SMP, katanya, sudah tidak pantas untuk main-main ke theme park. Oalah, anakku (merasa diri) sudah besar. Padahal, bapaknya aja masih mau...

Beberapa waktu lalu, kita melihat video di Youtube tentang keluarga yang berlibur ke hotel Legoland. Kelihatannya sangat menarik. Semuanya serba lego. Mulai dari kamar, lift, restoran, hingga kolam renang. Video itu bercerita tentang hotel Legoland di Amrik. Tapi, perkiraan kita, yang di Malaysia pasti tidak berbeda jauh. Dan, setelah melihat-lihat brosurnya, dugaan kita tidak keliru. Hanya saja, berarti budget yang harus disiapkan lumayan, karena mau menginap di hotel Legoland—bukan hotel budget seperti yang selama ini kita lakukan.
Kita pilih Legoland!
Persoalan pertama yang harus segera diselesaikan adalah tiket pesawat. Ini yang paling menentukan, karena untuk mendapatkan tiket yang terjangkau kantong, harus dipesan jauh-jauh hari dan biasanya hanya tersedia untuk hari-hari yang tidak peak. Berhubung Jeremy disunat pada waktu libur sekolah Juni-Juli, maka kita harus mencari waktu yang cukup setelah itu. Pilihan pun jatuh pada long weekend September ini.

Cari punya cari, akhirnya ketemu Jetstar dengan harga yang sebenarnya tidak murah-murah amat. Tapi, lumayanlah, untuk long weekend ternyata masih bisa dapat di bawah Rp 1 juta. Tiket pun kita pesan sekitar enam bulan sebelum berangkat, done!

Oya, seperti saya singgung di atas, kita berangkat melalui Singapura. Terus terang, saya tidak terpikir opsi untuk terbang langsung ke Johor Baru, karena pengalaman beberapa teman dan sejumlah blogger, semua lewat Singapura. Padahal ini bisa jadi opsi, apalagi setelah kita tahu belakangan, lumayan ribet urusan keluar-masuk antarnegara ini. Tapi, setelah menimbang berbagai hal, pada akhirnya saya berkesimpulan pilihan kami tidak terlalu keliru.

Setelah ada kepastian tanggal berangkat, langkah berikutnya memesan transportasi dan penginapan. Untuk transportasi, berdasarkan sejumlah review, yang dianjurkan adalah naik bus travel WTS Coach dari Singapore Flyer. Bus ini langsung menuju Legoland, jadi tidak perlu ganti-ganti angkutan lagi. Pilihan lain yaitu naik bus umum dari Bugis, tapi harus berganti bus di Malaysia. Atau, bisa juga naik taksi atau mobil carter, tapi ongkosnya lebih mahal. Ya sudah, kita langsung pesan WTS Coach via online untuk perjalanan pulang pergi. Perlu diingat, untuk berangkat hanya tersedia jadwal pagi hari, sedangkan untuk kembali hanya tersedia jadwal sore hari. Jadi, harus disesuaikan dengan itinerary. Done!
Ke Legoland naik WTS Coach.
Terakhir, penginapan. Kita tidak mau terlalu ambisius dengan itinerary. Kali ini, fokusnya ke Legoland. Selebihnya dibikin sesantai mungkin, nggak usah ke sana-kemari seperti waktu di Jepang. Akhirnya kita kecapekan sendiri akibat jadwal yang terlalu padat. So, untuk durasi empat hari, hari pertama cuma diisi berangkat dari Jakarta siang hari, tiba di Singapura langsung check in hotel dan nggak ke mana-mana lagi. Hari kedua baru berangkat ke Legoland, menginap semalam di sana, dan hari ketiga balik lagi ke Singapura. Kita masih punya waktu luang sedikit di malam hari. Baru hari berikutnya kita kembali ke Indonesia.

Jadi, ada dua malam kita menginap di Singapura. Cukuplah hotel budget. Kita cari yang tak terlalu jauh ke Singapore Flyer. Pilihan pun jatuh ke Amaris Bugis di Middle Road. Dari sini, Bugis Junction dan Bugis Street masih within walking distance. Di seberang hotel ada Subway dan di sebelahnya ada 7 Eleven. Jadi, nggak perlu khawatir kelaparan di malam hari. Done!

Untuk hotel Legoland bisa dipesan online. Karena tidak yakin apakah di lokasi nanti bisa cari makan malam, kita memesan sekaligus dengan makan malam. Lantas, karena sudah menginap di situ, untuk tiket masuk theme park ada opsi beli kombo, tiket theme park bisa jadi terusan untuk masuk ke water park dan berlaku selama dua hari. Opsi ini jelas lebih menguntungkan ketimbang harus beli satu-satu, theme park dan water park. Ternyata, kemudian, dengan tiket ini, kita bisa keluar-masuk theme park dan water park sesuka hati. Lagi-lagi pilihan yang tepat. Done!

Kembali ke persoalan di awal, maraknya isu virus zika memang mengkhawatirkan. Apalagi ada berita di Kompas bahwa mereka yang pulang dari Singapura diskrining, takutnya terkena virus. Namun, menurut seorang teman, sebenarnya tak perlu terlalu khawatir, karena penyakit ini lebih berbahaya untuk ibu hamil. Yang penting, dijaga nggak tergigit nyamuk. Okelah, kita pasrah saja, tiket udah dibeli, masak nggak jadi berangkat. Yuk mareee... [bersambung]